Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan


Nggak sabar! Itulah yang ada di pikiran saya sambil nunggu unit Moto G5s Plus bersamaan dengan pembeli pre-order lainnya dari Lazada. Setelah menulis, menonton komparasi dan lainnya, saya cukup yakin kalau Moto G5s Plus adalah pilihan yang lebih tepat untuk saya, dibandingkan kompetitornya, Xiaomi Mi A1. Apakah ponsel ini tepat juga untuk kamu? 


Sebelumnya belum pernah pakai ponsel Motorola... eh, nggak ding. Dulu saya sempat pakai Motorola MOTOSLVR L5 selama beberapa hari. Sempat tau? Itu lho, yang seperti RAZR tapi bukan jenis flip. Yah tipis gitu, pada zamannya. Selalu penasaran dengan Moto G series yang terkenal murah dan bagus. Sebagai pengguna OnePlus 3T, saya juga nggak sabar, ponsel Android tiga jutaan dengan stock Android jaman sekarang seperti apa sih. Apa bakal terasa banyak kurangnya, atau malah lebih baik.


Di dalam paket penjualannya, terdapat earphone stereo, kabel micro USB, serta kepala charger dengan fitur TurboPower. Kurang lebih, TurboPower bawaan Moto G5s Plus ini setara dengan QuickCharge 2.0. Inilah yang juga membuat saya mantap pilih G5s Plus. Yah, gimana ya, selama pakai 3T, sudah biasa dari 0% ke 63% dalam 30 menit. Kalau pindah ke yang "cuma" 5V 2A, bisa emosi saya 😅


Salah satu hal yang paling saya suka dari Moto G5s Plus adalah desain fisiknya. Cakep. BANGET. Saya lebih pede pegang ponsel ini daripada OnePlus 3T saya, yang, walaupun sudah saya kasih marble skin dari dBrand, masih kurang terlihat "mahal". G5s Plus menggunakan material full metal, dengan garis antena di sisi belakang atas dan bawah. Kamera di belakangnya menonjol dan sangat menarik perhatian. "Wah, kameranya dua ya? Pasti mahal!", atau, "Ehe, kameranya kayak emoji." Adaa aja yang nanyain pokoknya, dan semua orang selalu nggak percaya kalau saya bilang ponsel ini dijual seharga Rp 2,99 juta aja.


And yes, kameranya nonjol. Agak parno awalnya, takut gampang baret atau pecah dan mengganggu pemakaian. Tapi selama dua minggu pakai tanpa case sama sekali, kaca kamera beserta framenya aman. Tanpa ada baret kecil sama sekali. Beberapa kali bodi metalnya juga kena dinding kamar atau barang bermaterial keras lainnya seperti powerbank Xiaomi, tapi sekali lagi, aman tanpa baret. Di tangan juga rasanya sangat kokoh dan mantab, berkat bentuk bodi belakang yang sedikit melengkung. Nggak licin walaupun telapak tangan saya selalu basah, cuma jadi agak kotor sedikit, tapi lumayan gampang dibersihkan.

Di sisi kanan ponsel terdapat tombol volume dan power yang sangat tactile. Tombol powernya bertekstur, jadi pengguna bisa dengan mudah membedakan mana tombol power mana tombol volumenya. Di bawah ada port micro-USB dan mono speaker, sedangkan di sisi kiri ada slot SIM hybrid. 3.5mm audio jack diletakkan di sisi atas ponsel. Sensor NFC ada di atas tonjolan kamera. Buat cek saldo e-money? Lancar kok.


Di depan, terdapat layar IPS 5.5" beresolusi full HD, ditemani sebuah sensor sidik jari yang tidak dapat ditekan, alias hanya bisa disentuh sama seperti milik OnePlus. Layarnya cukup bagus, lebih bagus dari kompetitor yang lagi panas-panasnya, di mata saya. Saturasi warna cukup baik dan brightness yang cukup untuk penggunaan di bawah terik matahari. Temperaturnya agak dingin, sih. But again, yang itu malah lebih-lebih.

Ada hal yang saya suka dan tidak suka dari Moto G5s Plus ini. Yang paling saya suka adalah fitur Moto Display. Tiap ada notifikasi, layar akan menyala dan menampilkan jam, tanggal, serta ikon aplikasi yang memunculkan notifikasi. Sentuh salah satu ikon notifikasi dan kamu bisa langsung melihat atau berinteraksi, tanpa perlu membuka kunci. Kalau ponsel diangkat juga layar akan menyala, seperti iPhone 7 dan OnePlus 3T/5 dengan lift-up display. Fitur ini mengakomodasi absennya lampu notifikasi LED. Saya sih lebih memilih Moto Display daripada notifikasi LED, karena lebih informatif dan seperti punya ponsel flagship. Oh ya, Moto Display juga ajaib. Ajaibnya kenapa? Nanti ya, nih saya kasih tanda *.


Yang saya kurang suka adalah tombol navigasinya. Perlu dicatat, ini tergantung selera saja ya, dan lebih ke nitpicking. Tombol navigasi di Moto G5s Plus secara default disematkan di layar secara virtual, yang artinya memakan porsi layar. Mau dihilangkan? Bisa. Moto menawarkan fitur one button navigation melalui sensor sidik jari di bawah layar. Geser ke kiri untuk back, ke kanan untuk masuk menu multitask, dan sentuh untuk kembali ke home. Awalnya saya coba dan lumayan... lama lama... kok kurang asik ya. Seumpama mau kembali ke awal, yang semula tap tap tap, jadi swipe swipe swipe. Jempol bakal terasa lumayan capek kalau lagi sering berpindah aplikasi. Itu aja sih. Untuk sensor sidik jarinya sendiri saya suka karena responnya cepat, tinggal sentuh tanpa perlu menyalakan layar, selalu sukses walaupun jari saya basah, dan tinggal ditahan untuk mematikan layar ponsel. Jadi hampir nggak pernah pakai tombol power.


Moto G5s Plus menggunakan OS Android Nougat 7.1.1 near-to-stock. Hanya ada tiga bloatware; Babe (aplikasi berita lokal), Catfiz (messenger lokal) dan INStore (mirip Play Store gitu, tapi lokal). Ketiganya bisa di-uninstall dengan mudah. Dengan minimnya bloatware, kinerja bisa lebih cepat karena nggak banyak kustomisasi dari pihak Lenovo-Moto, plus diharapkan software update bisa lebih cepat datangnya. Moto juga menambahkan beberapa fitur yang memudahkan penggunaan, dikemas lewat aplikasi bernama Moto. Isinya? Moto Display di atas (yang juga menyediakan fitur night display -- bisa atur kapan layar akan menguning untuk mengurangi blue light), plus Moto Actions. This is simply one of my favorite feature from this phone. Lewat Moto Actions, kamu tinggal melakukan gerakan maha simpel untuk trigger sesuatu. 


Mau nyalain senter? Chop chop (gerakkan ponsel ke bawah dua kali), dan LED flash langsung menyala. Mau ambil foto? Twist twist (putar ponsel dua kali) dan kamu langsung siap menangkap momen. Ada juga gestur lain untuk mengecilkan layar (memudahkan penggunaan satu tangan), menghilangkan suara ringtone, dan masuk ke mode Do Not Disturb. Twist untuk buka kamera ini semacam alternatif lain aja sih, di ponsel lain juga banyak ditemui shortcut serupa seperti menekan tombol power dua kali, atau tombol volume. Cuma yang chop chop itu lho, duh, pengen salaman sama yang bikin. Sebelumnya pakai LG G4, shortcut seperti ini tidak ada. Pas pakai OnePlus 3T, ada shortcut dengan menggambarkan huruf "V", cuma lebih sering nyalain dengan tidak sengaja daripada nyalain pas butuh. Ponsel jadi boros dan panas karena itu. Sedangkan gestur chop chop ini, selain gampang dan akurat, belum pernah sampai nggak sengaja nyalain.

Untuk performa, saya bilang, ponsel ini termasuk salah satu dari ponsel tiga jutaan dengan performa tercepat. Ngebut baik buka dan pindah aplikasi. Dari OnePlus 3T yang pakai SoC Snapdragon 821 + RAM 6GB, saat pindah ke Moto G5s Plus yang pakai Snapdragon 625 + RAM 4GB, saya nggak merasakan penurunan performa yang signifikan. Masih sangat enak untuk dipakai, jeda buka aplikasi singkat. Malah saya bilang, dibandingkan dengan LG G6, Moto G5s Plus sedikit lebih cepat. Tentu, G6 punya resolusi layar yang jauh lebih tinggi, resolusi layar yang belum terlalu umum, serta software yang masih Android 7.0. Tapi ya begitulah yang saya rasakan. Performa G5s Plus cukup impresif.

Kali ini kita bahas kameranya. Moto G5s Plus dilengkapi dua kamera utama dengan resolusi 13 Megapiksel dan bukaan f/2.0. Satu sensor RGB, satu lagi monokrom. Sensor RGB berfungsi untuk menangkap warna, sedangkan monokrom fokus menangkap cahaya dan detil objek. Keduanya dikombinasikan agar hasil foto jadi lebih baik, secara teori sih begitu. Kenyataannya? Cukup bagus buat saya. Hasil foto cukup natural dengan tingkatan noise yang wajar. Yang saya kurang suka adalah adalah jeda tiap foto atau shot-to-shot time. Perlu dicatat, yang lambat hanya waktu sebelum jepret dan saat menyimpan foto ke waktu untuk ponsel siap kembali memotret. Shutter speed standar, kok, nggak lambat. Tapi yah memang, yang seperti ini dapat membuat penggunanya kehilangan momen karena harus menunggu tiap kali mau ambil foto. Berikut slideshow hasil foto dari Moto G5s Plus.

G5s Plus Normal Camera Samples

Moto G5s Plus juga memberikan mode profesional dimana kita bisa atur fokus manual, white balance, ISO, shutter speed. User interfacenya sangat mirip seperti Lumia Camera di Windows Phone 8. Untuk hasil foto bokeh, proses pengambilan fotonya lebih lambat lagi. Tingkat kebagusannya... kalian nilai sendiri dari beberapa hasil foto di bawah ya. 

G5s Plus Bokeh Samples

Saya lebih menganggap fitur yang dinamakan depth enabled di Moto G5s Plus ini untuk... seru-seruan aja. Setelah mengambil foto, kamu dapat mengatur ulang fokus dan kadar blur di background foto, mengubah background menjadi monokrom, atau memotong foreground dan menempelkannya di foto lain.


Untuk kamera depan 8 Megapikselnya, saya bilang cukup bagus, atau bisa dibilang jauh lebih bagus dari kompetitor yang itu. Lensa lebih lebar, plus ada fitur selfie panorama.

Keluaran audionya saya rasa biasa saja, tidak ada yang spesial, tidak jelek juga. Speakernya cukup lantang dan di volume maksimal tidak pecah, masih enak untuk nonton serial. Peletakan speaker di sisi bawah kanan cukup pas buat saya, tidak 100% tertutup jari saat digunakan dalam mode landscape. 

Nah, yang nggak diduga-duga nih, daya tahan baterainya... Moto G5s Plus adalah ponsel dengan baterai teririt dari semua ponsel yang pernah saya pakai. Baterainya memang "cuma" 3000mAh, tapi dengan Snapdragon 625... wah, iritnya bukan main. Bener-bener bisa seharian! Hari pertama saya pakai full wifi, ponsel ini bisa nyala seharian dengan screen-on time 7 jam. Saya kira, ah, paling karena full wifi ya. Besoknya dan beberapa hari setelahnya, saya secara konstan mendapatkan screen-on time 5,5 hingga 6 jam dengan durasi menyala ponsel 15 jam lebih, dual SIM, full data, dan bluetooth selalu nyala untuk tersambung ke Moto 360. Padahal dengan sinyal XL yang kembang kempis di Surabaya, dan *dengan Moto Display yang selalu nyala tiap ada notifikasi masuk. Padahal kan layarnya IPS ya, harusnya bisa boros kalau Moto Display aktif, karena warna hitamnya tidak pekat. Tapi nggak. Ajaib. Asli.


Jadi, apakah Moto G5s Plus layak untuk dibeli? Sangat layak. Terutama kalau harganya masih Rp2,99 juta. Kalau sudah naik... Yah, maksimal 3,499 juta deh. Kalau lebih dari, buat saya sudah jadi tidak menarik lagi. Semoga Lenovo terus menjual G5s Plus seharga pre-order, supaya bisa bersaing dengan brand-brand lain yang punya spesifikasi sama. Tapi perlu dicatat, spesifikasi bukan segalanya ya.

Comments

Popular posts from this blog

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren