Tips Memilih Ponsel Untuk Ibu-Ibu


Berencana untuk membelikan (atau memilihkan) sebuah ponsel untuk tante, nenek, ibu atau orang tua tercinta? Ada baiknya agar kamu memerhatikan beberapa tips berikut ini sebelum membeli.

(disclaimer: artikel ini awalnya saya tulis untuk UC News di sini.) (walaupun judulnya untuk ibu-ibu, kurang lebih bisa diterapkan untuk bapak-bapak juga.) (ya gitulah.)

Sebuah ponsel kini sangat berperan penting bagi sosok seorang ibu, karena sekarang ponsel jadi alat utama bagi beliau untuk berkomunikasi dengan anak, suami, keluarga, teman, sampai penjual sayur di pengkolan. Nggak cuma buat angkat telepon dan SMS, ponsel yang tepat juga dapat digunakan sebagai sumber utama konsumsi informasi dan media hiburan. Lalu ponsel seperti apa sih, yang tepat untuk ibu-ibu?

Dimensi

Ada ibu-ibu yang suka ponsel dengan layar besar (untuk kebutuhan multimedia, nonton  video di YouTube dan lainnya), dan ponsel dengan layar kecil (supaya gampang dikantongin). Kalau ada masalah pengelihatan, baiknya diberikan ponsel dengan layar cukup besar. Memang, ukuran huruf dalam ponsel saat ini rata-rata bisa diperbesar, tapi kalau font di ponsel berlayar kecil dibesarkan, konten yang ditampilkan jadi sedikit, jadi harus scroll-scroll terus, atau ada konten yang terpotong dan sebagainya. Belum lagi ada virtual keyboard yang memakan tempat setengah layar sendiri. Jadi pastikan untuk memilih ponsel dengan dimensi layar yang pas ya.

Memori

Kebanyakan ibu-ibu di sekitar saya (tetangga, saudara dan mama saya sendiri) sangat aktif dalam grup -- baik itu WhatsApp atau BBM. Satu grup beranggotakan 10-20 orang, dan setiap hari bisa berbagi konten seperti foto, audio dan video lebih dari 10 kali. Itu baru satu grup, ya. Mama saya nih, grupnya cuma dua, cuma tetangga satu gang aja, total chat backupnya... 4,7GB. WhatsApp doang itu, dan media/data dari aplikasi seperti WhatsApp ini tersimpan secara default ke memori internal. Soalnya sering berbagi video klip lagu-lagu lawas gitu, nggak tau dapat dari mana. Bisa sih, tiap beberapa bulan media dipindahkan ke kartu memori secara manual satu-satu, tapi ya cukup merepotkan. Jadi baiknya pilih ponsel dengan memori internal yang lapang. 16GB mungkin cukup, dengan catatan dipasangkan kartu memori yang juga luas untuk menyimpan media seperti hasil foto/video dari kamera. Biarkan memori internal hanya dihabiskan untuk konten aplikasi saja, semakin besar, semakin baik. RAM yang besar juga dapat membantu kebiasaan ibu-ibu yang jarang menutup aplikasi maupun tab browser (biasanya abis nyari resep, baca berita dan sebagainya).

Proteksi

Ditaruh di sebelah kompor, di rak cuci piring, atau jatuh dari meja makan. Hal-hal tersebut sangat wajar terjadi pada ponsel ibu-ibu kebanyakan. Untuk itu, jangan lupa lengkapi dengan proteksi seperti pelindung layar dan case agar ponsel tetap aman saat jatuh. Saya merekomendasikan soft case agar dapat meredam bantingan saat ponsel jatuh, dan ponsel masih terlihat cakep. Flip cover juga boleh, tetapi ponsel akan menjadi lebih tebal dan sedikit merepotkan jika ingin mengambil foto, harus buka tutup flip. Kalau bukan kemauan sendiri, jangan deh, soft case aja. Dan kalau takut layar kenapa-napa waktu ponsel ditaruh di dalam tas, dikasih tempered glass aja. Beda dengan screen guard biasa, tempered glass tidak bisa baret (kecuali pecah ya). Jadi layar bakal tetap kinclong untuk nonton tayangan ulang sinetron di YouTube yang bentaran udah di-take down itu.

(contoh flip cover kece yang memang dibuat dari pembuat ponselnya)

Dukungan Jaringan 4G

Seperti yang saya bilang pada paragraf di atas, tidak jarang ibu saya menerima kiriman media dari grup WhatsApp, juga nonton serial drama televisi yang tertinggal di YouTube langsung dari ponselnya. Ponsel yang mendukung jaringan 4G sangat membantu dalam hal ini, karena operator lokal Indonesia kebanyakan memberikan paket internet murah kuota berlimpah khusus pada jaringan 4G.

Layanan Purna Jual

Jangan asal murah, pastikan juga brand ponsel yang dibeli mempunyai dukungan purna jual yang prima. Namanya ibu-ibu, kalau ponselnya rusak, komunikasi bisa terhambat dan harus segera diperbaiki. Jangan sampai harus menunggu lama hanya untuk servis, pilih yang pelayanannya sudah terjamin prima dan tersebar di penjuru kota. Yang resmi ya kalau bisa, jangan distributor. Karena selain purna jualnya lebih jelek, ponsel bergaransi distributor merk tertentu juga ada yang software(/ROM)-nya sudah dimodifikasi sedemikian rupa, sampai terpasang aplikasi beriklan yang tidak bisa dihapus, atau lebih parah, tidak bisa update software.

"Perlu banget update software?". Perlu, untuk menghindari bug software. Contoh, dulu saya pernah membetulkan Xiaomi Redmi 4A bergaransi distributor, yang, kalau fontnya diubah menjadi ekstra besar, aplikasi SMS tidak bisa dibuka (force close), padahal yang pakai sudah tua. Saat itu, Redmi 4A resmi belum beredar, dan ROM Global belum tersedia. Jadinya ya sementara solusi paling mudah waktu itu, saya ubah ukuran fontnya satu tingkat lebih kecil, baru aplikasi SMS bisa dibuka. Mau ngegantiin ke China ROM, repot, backup dulu, belum lagi belajar tutorial ganti ROM dan lain sebagainya.

Detil-Detil Lainnya

Sebagai contoh, ibu saya suka mendengarkan musik lewat Spotify. Dengan begitu, saya cari ponsel yang setidaknya memiliki kualitas speaker yang cukup keras untuk didengarkan saat memasak ataupun menyetrika. Selain itu, beliau juga hobi ber-swafoto (selfie), baik sendiri maupun dengan temannya. Karena memiliki penyakit mata tertentu, beliau hanya bisa mengarahkan wajah dengan pas jika ponsel tersebut memiliki kamera depan yang letaknya di kiri. Ya, mungkin bagi kita hal-hal seperti letak posisi kamera depan tidak terlalu penting, tapi itu bisa mempengaruhi pengalaman penggunaan. Apalagi, berbeda dengan kita yang bisa ganti ponsel 1-2 kali dalam setahun, ibu-ibu cenderung enggan untuk gonta-ganti ponsel. Maka dari itu, kamu harus benar-benar tahu ponsel yang pas dan sesuai untuk sang ibu. Nggak susah, kok. Ajak aja ke pusat perbelanjaan yang banyak toko ponselnya. Misal, nih, punya budget 3 jutaan, jadi ada beberapa pilihan seperti Galaxy J7 Prime, Oppo F1S, Zenfone 3. Tinggal cari pusat perbelanjaan yang sekiranya ada toko yang menyediakan ketiga ponsel itu sebagai live-unit. Dicobain deh, nanti dipilih mana yang cocok.

Tentukan Sebelum ke Pusat Perbelanjaan

Ini penting. Pastikan kamu sudah tahu ponsel apa yang pas untuk dibeli. Setelah tahu spesifikasi yang pas, lalu ambil 2-3 tipe ponsel yang masuk dalam budget, kemudian cari di pusat perbelanjaan terdekat. Jangan sampai kamu belum tahu ponsel yang cocok, berangkat, sampai sana "dibelokkan" oleh promotor yang kadang nakal dalam memberi saran. Sebagai contoh, saudara saya pernah memutuskan untuk pergi sendiri ke pusat perbelanjaan, membeli ponsel baru. Beliau sebelumnya pakai Xperia Z, dan berniat untuk beli Xperia Z2 karena sudah merasa cocok dengan Xperia. Saat kembali, saya ditelpon karena beliau kesulitan mengoperasikan ponsel tersebut. Ternyata, ponsel yang dibeli tidak memiliki lampu backlight pada tombol navigasi, serta menu yang rumit, plus tidak ada opsi keyboard T9 (ABC) secara built-in. Kenapa dibeli? Karena promotor bilang ponselnya paling tipis dan kuat walaupun dilindas mobil dan untuk ketok paku. Jangan sampai hal seperti ini terjadi.

Dampingi Setelah Membeli

Ada baiknya setelah membeli ponsel, kamu dampingi untuk mengajarkan penggunaan ponsel yang baru dibeli secara singkat. Atau, minimal setelah beli, atur dulu ponsel tersebut agar nantinya nyaman digunakan oleh ibu. Apa aja biasanya?
  • Hapus bloatware/aplikasi bawaan ponsel yang tidak digunakan (supaya tidak terlalu banyak aplikasi & memori internal lebih lega)

  • Perbarui aplikasi dan software ponsel (supaya tidak ada bug mengganggu)

  • Atur akun-akun aplikasi seperti WhatsApp, Go-Jek, Uber supaya tinggal pakai

  • Atur juga beberapa aplikasi bawaan yang tidak bisa dihapus, supaya tidak memunculkan notifikasi mengganggu

  • Disable aplikasi terutama yang berfungsi sama (misal, browser bawaan vs Chrome, email bawaan vs GMail, pemutar musik bawaan vs Google Play Music)

  • Ubah ukuran font, kecerahan layar dan lainnya sesuai kebutuhan

  • And that's it!
Mungkin bagi sebagian orang, memilihkan ponsel untuk seorang ibu tidak terlalu penting. Yang penting bisa menelepon, SMS, atau WhatsApp saja sudah cukup. Bagi saya pribadi, memberikan ponsel yang tepat untuk ibu saya adalah salah satu cara saya berterima kasih kepada beliau. Dari yang awalnya hanya dipakai untuk menelepon dan SMS, sekarang beliau bisa bercanda dengan tetangga lewat WhatsApp GIF dan video, menemukan lagu-lagu lama favorit lewat Spotify, cari resep kue, mencatat kebutuhan rumah lewat OneNote, belanja kebutuhan rumah lewat e-commerce, dan lain sebagainya. Ibu saya bisa dan mengerti berita dan isu politik mana yang bukan hoax -- semua hanya dari grup WhatsApp, tanpa perlu menonton tv.


Sekian tips dari saya. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, bisa langsung kirim DM/mention ke akun Twitter saya, @prasetyoh. Punya saran lain? Sampaikan melalui komentar di bawah ya!

Comments

Popular posts from this blog

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren