Terima Kasih, Spotify.


Terima kasih, Spotify. Ya, tulisan ini saya buat sebagai apresiasi saya untuk layanan streaming musik yang hampir satu tahun dirilis resmi di Indonesia ini. Iya, sebegitu perlunya. Karena Spotify sudah memberikan dampak yang cukup besar dalam keseharian saya. Apa saja?


Mau bilang "musik adalah bagian dari hidup saya" kok ya nggak pantes, musisi bukan, anak musisi juga bukan. Jangankan SoundCloud, nyanyi di Smule aja nggak pede *halah*. Tapi bener deh, saya tuh ngerasa bersyukur banget sudah kenal sama Spotify.

Yang pertama, nggak ribet. Tampilan Spotify ini menurut saya yang paling simpel daripada beberapa kompetitor lainnya (personal preferences tentunya). Mau cari artis/album/lagu? Gampang. Suka sama lagunya? Tinggal tap tombol "+", langsung tersimpan di saved songs. Suka sama artisnya? Follow dan kamu akan dapat update lagu/album baru baik via email dan app. Mau dengerin playlist yang enak buat nemenin tidur? Ada, nih favorit saya. Mau dengerin suara hujan? Ada playlistnya. Atau mau dengerin playlist yang saya buat khusus untuk mengemudi? Boleh lho difollow. Hehe.


Mau download playlist/album tertentu supaya bisa putar offline? Bisa. Atur kualitas lagu juga bisa. Plus, integrasi ke perangkat lain juga juara. Let's say kamu mau ngisi lagu di ruang tamu tapi nggak punya speaker bluetooth mewah. Gampang aja, colokin ponsel/laptop kamu ke speaker/tv via kabel 3.5mm/HDMI, putar Spotify, dan kamu bisa kontrol apapun yang sedang diputar lewat perangkat lain dengan akun yang sama. Saya paling sering pakai fitur ini untuk tidur malam. Laptop tersambung ke Logitech X50 di ujung kamar, dan saya pilih playlist yang cocok dari tempat tidur via OnePlus 3.

Yang kedua, kelewat murah. Kalau subscribe sendiri, per bulannya memang 50rb. Tapi kamu bisa siasati dengan subscribe Family Plan. 79rb per bulan, dengan jumlah akun maksimal enam orang. Iya, jadi 79rb dibagi enam, alias TIGA BELAS RIBUAN DOANG. Gimana caranya? Cari aja teman yang punya kartu kredit (karena sampai saat ini harus pakai kartu kredit untuk Family Plan), dan empat orang lain yang mau komitmen untuk rajin bayar (udah kayak pacaran aja, pake komitmen). Contoh: saya, @_yori, @Herrhabib, mama saya, dan sisanya teman-teman kami. And yes, Spotify ini juga cocok banget untuk orang tua. Mama saya sehari-hari setrika sambil puter playlist Today's Top Hist -- saking up-to-datenya, beliau bisa bilang, "dek, ini lagu kan sudah lama ya? kok masih diputer aja" tiap kali kami ke pusat perbelanjaan dan terdengar lagu Closer-nya Chainsmokers atau Faded-nya Alan Walker. Sekali-kali beliau putar album Michael Learns To Rock, Guns N' Roses, dan beberapa band/penyanyi lawas untuk mengenang masa sekolahnya. Udah nggak perlu lagi nge-downloadin lagu (apalagi lagu lawas, sudah susah, dosa juga kalo cari gratisan), beliau tinggal cari dan putar langsung dari Spotify.

IMG_20170212_103618-01
(mum's phone, of course.)
Yang ketiga ini poin paling penting -- yang bikin saya niat buat tulisan ini dan berterima kasih sama Spotify. Lewat aplikasi ini, saya dikenalin dengan banyak artist baru. Beberapa sudah terkenal, dan yang paling banyak adalah yang masih indie. Gimana caranya Spotify bisa ngenalin saya ke artist baru? Lewat dua cara; rekomendasi dan playlists. Rekomendasi ini saya rasa masih baru. Kalau saya lagi dengerin sebuah playlist dan jumlah lagu sudah habis, Spotify akan otomatis terus memutar lagu yang menurutnya sesuai dengan lagu-lagu yang ada di playlist tersebut. Kalau suka, kamu bisa tekan thumbs up atau simpan lagu, atau thumbs down (sebaliknya).

Beda lagi sama playlist. Selain pilihan playlist yang ada (dan banyak banget yang cocok), kamu juga dibuatkan dua playlist khusus yang sangat personal. Kedua playlist ini akan diperbarui setiap minggunya, dengan lagu-lagu baru yang sesuai dengan selera musikmu. "Release Radar" berisi lagu-lagu yang cenderung baru, dan lagu baru dari artis yang kamu sudah follow. Sedangkan "Discover Weekly" lebih bebas, lebih banyak lagu lama.

Sebelum ada Spotify, cara saya cari lagu baru cuma dua; dari soundtrack film/serial yang terdengar menarik, dan beberapa top charts seperti dari Billboard/MTV. Udah. Itu aja. Setelah kenal Spotify, saya jadi kenal BANYAK artist baru. Saya pun baru tahu kalau ternyata saya suka banget dengerin lagu ber-genre folk, soul dan electronic(?) music, lewat rekomendasi-rekomendasi dari Spotify.

Here's a list of my new favourite artists I've discovered from Spotify, mulai dari yang mainstream sampai indie. Klik masing-masing nama untuk tahu lagu mereka di YouTube -- in case belum subscribe ke Spotify.
Setelah menemukan beberapa artist indie di atas, saya mulai follow dan cari tahu masing-masing artist. Mulai dari HONNE yang mau ke Jakarta bulan Maret nanti, Maggie Rogers yang bikin Pharell Williams nangis waktu demoin lagu "Alaska", Wafia dan Thomston yang pernah perform bareng di TEDTalks (and it's too beautiful), macem-macem deh. Bahkan beberapa artist di atas subscriber YouTube channelnya nggak sampai seribu!

Buat kamu yang belum pakai/subscribe ke Spotify, coba deh. Trial dulu seminggu atau sebulan. Atau kamu sudah subscribe ke layanan streaming musik lainnya? Yuk, share pengalamanmu lewat komentar di bawah. :)

Comments

  1. Aku udah setahun make  Music, baru 2 bulan ini make Spotify. Iya aku awalnya emang mau nyobain dulu, tapi akhirnya aku sama kayak kamu, suka spotify karena Spotify membantu menemukan dan mempertemukan dengan selera musik kita menjadi lebih dalam.

    ReplyDelete
  2. Emang Apple Music sarannya nggak bagus, kak? Apa gimana?

    ReplyDelete
  3. Saya juga salah satu pengguna spotify, rela langganan premium atas dasar "ingin mengapresiasi karya seni" ga mau download bajakan supaya ga dosa. Mungkin pola berpikir sudah menuju ke arah dewasa juga.

    Yang paling favorit adalah nyetel playlist secara acak selama perjalanan menuju kampus. Pasti aja nemu lagu favorit baru. Hidup berasa lebih "berisi" semenjak pake spotify.

    Btw, salam kenal mas. Maaf saya blogwalking terus komen nya panjang banget. Wkwkwk

    ReplyDelete
  4. Hampir sama? Saya juga lebih sering putar playlist "Discover Weekly" & "Release Radar" juga selama perjalanan pergi dan pulang ke kampus, di rumah lebih jarang. Lebih sering menemukan lagu baru di jalan.

    Salam kenal! Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.

    ReplyDelete
  5. Saya dulu pernah coba pakai Spotify, baru beberapa hari install tapi belum merasa nyaman. Akhirnya saya putuskan sampai sekarang pakai Joox.

    Mengapa saya tidak (atau belum) nyaman dengan Spotify, karena waktu itu masih mencoba versi trial. Saya yakin apabila menggunakan mode berbayar pasti akan berbeda rasa.

    Terima kasih share-nya, Mas.

    Oh ya kita beberapa kali bertegur sapa di twitter, saya ada di @ruaien, sekadar info hehe.. ^^

    ReplyDelete
  6. Terima kasih sudah mampir!

    Dari tulisan saya, kira-kira apa keunggulan Joox daripada Spotify, selain ada built-in lyrics?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren