Unboxing & First Impressions: Pebble 2 HR


Finally! Setelah menunggu berminggu-minggu nggak ada kabar kiriman dari US, sampai langsung ke kantor pos pusat di Juanda untuk nanyain paket, nungguin perhitungan pajak dua minggu, keluar pajak tapi kemahalan, revisi* pajak lagi seminggu, dan baru kemarin akhirnya bisa ambil dari kantor pos. The most feature-packed and the last one -- Pebble 2!


Pebble 2 merupakan suksesor dari jam seri pertama Pebble, yaitu Pebble Classic. Masih menggunakan ePaper display hitam putih dan material plastik polikarbonat, Pebble 2 dilengkapi beberapa fitur baru dan penyempurnaan desain yang membuat smartwatch ini makin kece dan menurut saya jadi terlihat seperti jam tangan digital biasa. Pebble 2 dirilis dalam dua varian -- Pebble 2 SE, dan Pebble 2 HR dengan heart-rate monitor. Yang saya punya adalah Pebble 2 HR, dibeli saat masa pre-order di Kickstarter seharga USD 99. Setelah masa pre-order habis, versi HR dijual USD 129 dan versi SE USD 99. Let's start the unboxing!

IMG_9217

Dus Pebble 2 ini jauh lebih menarik dari dus Pebble Classic. Modelnya tipis, dan cara bukanya pun lebih mudah. Buka bagian bawah, dan tarik isinya keluar.

IMG_9220

IMG_9222

Di dalamnya, terdapat tiga bagian terpisah dari jam ini; strap, charging cable, dan modul Pebble 2 itu sendiri. Yep, kali ini strapnya terpisah dan sudah dilengkapi quick release pin, jadi gampang kalau mau pasang dan copot, in case kamu ingin mengganti strap 22mm dengan strap lain sesuai selera. Charging cablenya juga nggak kalah cakep dengan model kabel pipih. Dan berbeda dari Pebble Classic yang charging portnya ada di sebelah kiri modul, di Pebble 2 port disembunyikan di belakang, di atas sensor detak jantung. Magnetnya lebih gampang dan kuat menempel ke bodi Pebble.

Jika diletakkan secara bersebelahan dengan Pebble Classic, Pebble 2 terlihat lebih tipis dan memiliki bezel lebih ramping. Untuk kaca depan, Pebble 2 dilengkapi dengan proteksi Corning Gorilla Glass sehingga lebih tahan gores. Oh ya, bezel yang lebih ramping dan permukaan layar yang datar ini membuat saya mengira layar Pebble 2 lebih besar dari Pebble Classic, padahal secara dimensi sama saja. Selain itu, peletakan tombolnya pun sama; tombol back di kiri dan tiga tombol navigasi di kanan. Di bawah tombol sebelah kanan terdapat lubang mic untuk voice reply.

IMG_9231

IMG_9229

IMG_9232

IMG_9233

Cara setup awal pun cukup mudah. Tinggal nyalakan Pebble 2, buka aplikasi Pebble di smartphone, sambungkan via app (menggunakan bluetooth) dan Pebble akan meminta untuk download software terbaru secara otomatis. Setelah itu tinggal isi data diri (termasuk umur, berat dan tinggi badan), pilih apakah ingin lebih aktif dan ingin meningkatkan kualitas tidur, plus opsi untuk sinkron dengan Google Fit. Saya merasa seperti baru mengaktifkan fitness tracker. Atau Fitbit. Ouch.

IMG_9240 (sengaja beratnya belum diisi hehe)

Sebagai mantan (dih gitu, sekarang dimantanin.) pengguna Pebble Classic, peningkatan di Pebble 2 ini sangat signifikan. Lebih nyaman di tangan, terasa lebih ringan, otomatis mencatat detak jantung, jumlah langkah dan kualitas tidur setiap harinya, ada fitur voice reply, dengan klaim baterai yang masih sama (up to 7 days) dan harga yang menurut saya relatif murah.

Sementara itu saja. Untuk daya tahan baterai, terpakai atau tidaknya fitur voice reply dan fitur lain akan saya bahas di postingan full review minggu depan. Saya juga akan curhat perihal Pebble yang telah dibeli/diakuisisi oleh Fitbit, dan apa dampaknya untuk pengguna Pebble saat ini. Stay tuned!

IMG_9242

*
Oh ya, sedikit tentang revisi pajak. Pebble 2 HR ini merupakan pembelian saat masa pre-order dengan harga USD 99. Namun saat sampai ke Indonesia dan dihitung oleh pihak bea cukai, total pajak untuk dua unit jam ini adalah sekitar 890 ribu rupiah. Kaget! Begitu saya datangi ke kantor bea cukai pusat, ternyata per unit dihitung dengan harga USD 129. Saya pikir wajar, karena pihak bea cukai menghitung pajaknya baru akhir November, yang saat itu harga Pebble 2 HR sudah naik ke USD 129. Saya disuruh melampirkan semua bukti pembayaran yang ada -- histori transaksi di bank, PayPal, email dari Pebble/Kickstarter, semuanya dilampirkan. Lebih banyak bukti, lebih cepat pemrosesan revisi pajak. Satu minggu kemudian, pajak sudah direvisi menjadi sekitar 670 ribu rupiah. Jadi buat kamu yang merasa pajaknya mahal, coba ditanyakan dulu ke pihak bea cukai, dihitung berapa per unitnya. Jika salah, silahkan revisi dan lampirkan semua bukti pembelian yang ada.

Comments

Popular posts from this blog

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren