I Sold My Last Lumia.


Sabtu kemarin (12/11), saya beranjak dari rumah menuju sebuah tempat makan siap saji di daerah Sidoarjo. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit, saya turun dari kendaraan, memesan chicken teriyaki, lalu menelpon calon pembeli. Ternyata, pembeli menunggu di seberang dan tidak mau parkir di tempat makan tersebut (yang saya sampai sekarang juga kurang paham kenapa, padahal parkirnya gratis). Saya datangi, kami bertemu, saya berikan Lumia beserta kelengkapan lain, pembeli memberi uang, salaman, dan pergi.

Lumia tersebut adalah Lumia terakhir saya, Microsoft Lumia 535.


Yup, sebuah Lumia low-end yang saya punya hanya sekadar untuk... punya. Atau untuk jawab beberapa pertanyaan dari pengguna Lumia yang mention ke @nokianesia -- ya, saya masih rutin untuk menjawab pertanyaan di akun tersebut. Awalnya saya mau jual Lumia 535 dan menggantikannya dengan Lumia low-end lain, seperti Lumia 532 atau 540, yang punya layar lebih normal. Sudah merupakan informasi umum kalau layar Lumia 535 terlalu sensitif dan tidak ada obatnya. Karena ponsel Microsoft Lumia pertama? Entahlah.

Tapi kemudian, saya mikir lagi. "Buat apa saya beli Lumia lagi?". Nokia sudah resmi mengumumkan jika akan kembali ke bisnis ponsel dengan merilis smartphone Android. "Untuk jawab pertanyaan di akun Twitter sebelah?". Tidak perlu juga. Hampir semua pertanyaan seputar Windows 10 Mobile dapat saya jawab langsung, atau penyelesaiannya dapat ditemui di internet. Sudah tidak ada alasan lagi untuk saya membeli Lumia baru, kan?

Windows 10 Mobile saat ini benar-benar difokuskan sebagai sistem operasi untuk ponsel kelas bisnis, sangat berbeda dari era 4-6 tahun lalu. Path dan BBM pergi dari Windows Store. Snapchat masih tidak ada. Go-Jek juga belum tersedia, at least hingga tulisan ini dibuat. Aplikasi seperti Instagram dan Spotify memang ada & cukup up-to-date, namun tidak se-stabil versi Android dan iOS -- dugaan saya karena dua aplikasi ini murni hasil port dari versi iOS, jadi belum sepenuhnya optimal. Dulu, saat era aplikasi masih hanya sebatas WhatsApp, Twitter dan Facebook, saya bisa cek notifikasi dengan mudah lewat live-tiles yang bergerak secara intuitif. Sekarang? Tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan, karena, ya, aplikasinya tidak ada.

2012-12-04-3227 Lumia Differentiators. Diambil saat peluncuran Nokia Lumia 920 di Jakarta, 2012 lalu.

I've never been a Microsoft fanboy. Don't get me wrong, I do love Windows 10 on my PC. Alasan saya untuk menggunakan Lumia, tidak lain tidak bukan, hanya karena Nokia. Walaupun begitu, saya sangat bersyukur bisa hidup di era Nokia bangkit (dari keterpurukan Symbian -- elah, kayak judul artikel aja.) dengan Lumia. Banyak BANYAK sekali pengalaman yang sudah saya dapatkan. Membuat saya tidak hanya menjadi pelajar SMA yang selalu galau akademik, tapi jauh lebih dari itu.

2013-10-22-0235
Salah satu foto terbaik yang pernah saya ambil.

Foto di atas adalah salah satu foto terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Difoto menggunakan Nokia 808 PureView -- flagship Symbian terakhir Nokia. Stephen Elop sedang memperkenalkan Lumia 1520, 1320 dan 2520 pada event Nokia World 2013 di Abu Dhabi. Event terbesar dan terakhir dari Nokia sebelum benar-benar diakuisisi oleh Microsoft. Saya yang pada saat itu hanya seorang fanboy Nokia berusia 19 tahun, bisa diundang dan hadir ke sebuah acara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, melakukan wawancara dengan salah satu petinggi DreamWorks Animation, membuat hands-on video bersama beberapa reviewer favorit seperti Clinton Jeff dan Mark Guim, dan lain sebagainya. Semua dapat terjadi karena hanya saya, literally, menggunakan Lumia.

So thank you, Lumia, and all of the team that got involved with the brand.

Sincerely,  a fanboy.

IMG_1066

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren