LG G5 Hands-on Review: The Modular Flagship


Empat bulan belakangan ini, saya menggunakan LG G4 sebagai daily driver utama. Yap, akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk menukar posisi Windows Phone dengan Android sebagai ponsel utama yang saya gunakan. Saya sangat puas dengan kinerjanya secara keseluruhan, terutama di sektor kamera. Tahun ini, LG merilis flagship baru mereka, LG G5, dengan konsep modular dan memiliki dua kamera di belakang. Apakah dapat bersaing dengan Android flagship lainnya?


Sebagai catatan, varian LG G5 yang saya pegang adalah seri H860N, dibeli langsung dari Hongkooooong~~ dari Hongkong, varian warna Pink. Sedangkan untuk kamu yang (akan) melakukan pre-order secara resmi, varian yang dijual adalah H840, atau disebutnya "LG G5 SE". Ada yang menerjemahkan singkatan SE sebagai "Special Edition", ada juga yang bilang "Sunat Edition", karena processor dan RAM yang dimiliki G5 SE tidak semaksimal LG G5 biasa. Mana yang harus dibeli? Ada di bagian akhir artikel. Kita bahas aspek-aspek yang sama dulu yuk.

First, the hardware. LG G5 ini punya material casing yang... bisa dibilang, tidak biasa. Yes, it has a special aluminum alloy LM201, material yang juga dipakai untuk mobil balap mewah dan pesawat terbang. Yang tidak biasa, di atas material aluminum, LG melapisinya dengan cat primer yang juga berfungsi untuk menghilangkan garis antena. Itu lho, garis yang membentang di back cover iPhone 6S dan HTC 10, misalnya. Adanya lapisan tambahan ini membuat kita serasa tidak memegang metal (yang memang iya, karena yang menempel di permukaan tangan adalah lapisan cat primer tadi). Keuntungannya, suhu jadi terjaga. Di kondisi udara dingin, ponsel jadi tidak terlalu dingin, kondisi panas pun ponsel tidak terlalu panas.




Berbeda dari seri G2, G3 dan G4, LG tidak lagi menempatkan tombol volume di bagian belakang bodi G5, melainkan di sebelah kiri layar. Yang ada di belakang hanyalah kamera dan sensor sidik jari yang juga berfungsi sebagai tombol power. Oh ya, jika kamu sudah meregistrasikan sidik jari sebelumnya, kamu hanya perlu meletakkan jari di sensor tanpa perlu menekannya untuk membuka kunci. Membuat proses buka kunci di G5 terasa lebih instan dari Galaxy S7 Edge dan iPhone 6S.



Di bagian bawah kiri ponsel, terdapat sebuah tombol yang berfungsi untuk... melepas kunci modul. Yup, LG G5 adalah smartphone dengan konsep modular pertama yang dijual secara masal. Modul di bagian bawah G5 ini bisa dicopot dan diganti modul lain; Hi-Fi Plus (with Bang & Olufsen) dan Cam Plus (dengan baterai 1.200mAh dan beberapa tombol tambahan untuk menunjang kemudahan ambil foto). Prosesnya cukup mudah dan boot awal G5 juga relatif singkat. Saat saya coba untuk copot pasang, modul terasa cukup presisi, tidak se-ringkih yang saya bayangkan. Belum tahu lagi untuk jangka panjangnya gimana, ya. Yang saya paling takut adalah gap antara bodi dan modul. Coba lihat foto di bawah ini, deh. Mengganggu atau tidak buat kamu?



Selain modul, G5 juga punya baterai berkapasitas 2.800 mAh yang bisa dilepas. "2.800 mAh? Kok kecil?". Weits, kapasitas baterai kecil tidak selalu berbanding lurus dengan daya tahan baterai yang singkat. Saat hands-on kemarin, dengan kondisi sama-sama penuh dan penggunaan intensif, G4 saya yang berkapasitas 3000mAh sudah mencapai sisa daya 10% duluan, sedangkan G5 masih di 35%. Padahal, processor G5 jauh lebih cepat dan memiliki dua modul kamera yang harus saling siaga setiap kali mode kamera diaktifkan. Untuk pengecasan, G5 mendukung Quick Charge 3.0 via port USB type-C. Info dari pemilik, charge dari habis hingga 50% membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sedangkan dari habis sampai penuh sekitar satu jam lebih sedikit.

LG G5 punya dimensi layar 5.3" - 0.2" lebih kecil dari LG G4. Saat saya bandingkan secara bersebelahan sih tidak terlalu terlihat. Layar masih cukup besar dan nyaman, dengan kerapatan piksel yang lebih tinggi karena sama-sama beresolusi Quad HD 1440p. Yang agak aneh, saat digunakan pada ruangan dengan kondisi cahaya melimpah, layar G5 secara signifikan lebih redup dari G4. Kedua ponsel sama-sama menggunakan pengaturan brightness maksimal. Diganti ke mode auto pun tidak membantu. Padahal, di atas kertas, layar G5 seharusnya lebih terang dengan maksimal brightness 900 nits, jauh dari G4 yang hanya 454 nits. Mungkin hanya perlu software update, ya. Untuk tingkat saturasi, layar G5 sudah cukup vivid dengan kedalaman warna hitam yang cukup pekat untuk ukuran panel IPS LCD, hampir menyamai panel AMOLED.



Oh ya, walaupun bukan AMOLED, LG G5 punya Always-on Display seperti Galaxy S7 atau beberapa tipe Lumia. LG mengklaim fitur ini hanya akan menghabiskan baterai sekitar 0,8% per jamnya. Berbeda dari Galaxy S7, AOD pada LG G5 lebih simpel, dengan tampilan jam yang lebih kecil dan lebih... redup. Masih cukup terlihat di luar ruangan kok. Walaupun lebih simpel, AOD milik G5 dapat menampilkan ikon notifikasi dari aplikasi pihak ketiga, tidak seperti milik Galaxy S7 yang hanya dapat menampilkan notifikasi aplikasi bawaan saja.



Menggunakan Android 6.0 Marshmallow, user interfacenya lebih flat, simpel dan serba putih jika dibandingkan dari generasi sebelumnya. Secara default, LG G5 tidak memiliki app drawer, alias aplikasi tercampur di homescreen seperti MIUI. Tapi bagi kamu yang kurang suka, lewat software update, LG menghadirkan opsi untuk menampilkan app drawer kembali. Fitur Dual Apps (menjalankan dua aplikasi secara bersamaan) yang ada di G4, absen di G5. Perkiraan saya sih akan kembali ada secara native di update Android N. We'll see.




LG G5 yang saya coba adalah varian H860N dengan processor quad-core Snapdragon 820, grafis Adreno 530, 4GB RAM, 32GB internal memory dan dual-SIM hybrid slot. Hybrid di sini berarti kamu hanya bisa menggunakan salah satu dari dua konfigurasi berikut; dua kartu SIM, atau satu kartu SIM dengan satu kartu memori (hingga 200GB!). Awalnya, saya merasa processor Snapdragon 820 ini overkill. Buat apa? Toh Snapdragon 808 di LG G4 sudah cukup ngebut. Tapi ternyata dugaan saya salah. Performa G5 terasa lebih cepat hampir di semua sisi.

Sama seperti pendapat orang yang mengatakan resolusi layar Quad HD di smartphone adalah sia-sia, kamu harus mencobanya secara langsung untuk merasakan bedanya. Agak berlebihan ya? Buat saya memang seperti itu faktanya. Walaupun ada dua modul kamera di belakang, kecepatan buka kamera di LG G5 cukup terasa lebih cepat dari G4, begitu juga dengan proses perpindahan aplikasinya. Setelah saya pakai foto-foto dan buka aplikasi ini-itu, G5 masih berada dalam suhu yang sedikit hangat, tidak panas sama sekali.

Untuk kamera, G5 memiliki total tiga modul kamera; satu di depan dan dua di belakang. Bahas yang belakang dulu yuk.



Ada dua kamera yang terletak di bagian belakang LG G5. Lensa utama (sebelah kiri) beresolusi 16 Megapiksel dengan ukuran sensor 1/2.6", apertur f/1.8, 3-axis OIS dan sudut pandang 75 derajat. Kamera utama ini dapat merekam video 4K 30fps dengan suara stereo. Di atas kertas, kamera utama LG G5 setara dengan LG G4 dan V10. Nah, yang menjadi pembeda adalah adanya kamera sekunder di sebelah kanan. Tidak seperti kamera sekunder HTC One M8 dan Leica P9, kamera yang beresolusi 8 Megapiksel f/2.4 ini dapat mengambil foto dengan sudut pandang 135 derajat! Masing-masing kamera bekerja sendiri-sendiri, atau dapat digabung untuk menghasilkan efek foto tertentu. Kedua kamera ditemani single-LED flash, laser autofocus (untuk kamera utama, karena kamera kedua hanya full focus layaknya kamera GoPro), dan Color Spectrum sensor untuk hasil foto dengan warna yang optimal. Mengoperasikan kedua kamera LG G5 sangat mudah. Saat menggunakan kamera utama, kamu hanya perlu men-zoom-out foto untuk berpindah ke kamera sekunder dan berlaku sebaliknya. Bisa juga dengan menekan tombol di bagian atas viewfinder. Terdapat fitur HDR, panorama, manual mode, effects, Slo-mo video, timelapse dan banyak fitur lainnya.



Bagaimana dengan hasil fotonya? Well, unexpectedly better than my G4. Walaupun secara spesifikasi sama, foto yang dihasilkan sedikit lebih vibrant. Dan yang bikin senang lagi... variabel manualnya lebih lengkap dari G4. Shutter speed, misalnya. Di G5, kamu bisa atur shutter speed ke 1/15, 1/25, 3.2 detik, 1.3 detik etc. Sedangkan di G4, dari 1/15 langsung naik ke 1/30, atau 2 ke 4 detik. Walaupun G4 sudah cukup banyak pilihan, di G5 kamu bisa menentukan variabel yang benar-benar pas.



Berikut adalah hasil foto dari kedua kamera belakang LG G5. Masing-masing skenario difoto secara bergantian menggunakan kamera utama kemudian kamera sekunder, dengan posisi tangan yang sama. Hasil foto yang paling lengkap sudah saya upload ke album Flickr di sini. Kamu juga bisa klik masing-masing foto di bawah untuk melihat EXIF infonya ya.

20160521_152126
20160521_152133
20160521_151807
20160521_151803
20160521_151836
20160521_151840
20160521_151646
20160521_151657
20160526_233551_HDR
20160526_233559_HDR

Dengan sudut pandang 135 derajat, kamera sekunder milik LG G5 dapat menangkap jauh lebih banyak objek. Namun jika di-zoom sedikit saja, noise pada foto akan mulai terlihat. Untuk hasil foto yang maksimal, terang dan minim noise (plus OIS dan fokus manual), kamera utama tetap menjadi pilihan yang terbaik. Tapi untuk sekadar share ke jejaring sosial, saya rasa kamera sekunder akan lebih sering dipakai, karena dapat menghasilkan foto yang lebih menarik.

Untuk foto selfie, LG G5 memiliki kamera depan 8 Megapiksel dengan apertur f/2.0. Hasil fotonya terlihat sama persis dengan kamera depan milik LG G4. Lebih detil dan natural, namun sudut pandang tidak se-lebar kamera depan Samsung Galaxy S7.

LG G5 menurut saya adalah sebuah flagship yang unik dan futuristik. Berbeda dari Galaxy S7 yang merupakan penyempurnaan dari generasi sebelumnya, G5 punya pendekatan yang berbeda, bahkan sangat berbeda dari LG G4. Dengan konsep modular, material aluminum, dua kamera di belakang dan segala aksesoris tambahannya (LG Friends), G5 lebih cocok untuk seseorang yang menginginkan hal-hal baru, bukan flagship konvensional dengan fitur-fitur yang itu-itu saja. Dibandingkan Galaxy S7, LG G5 masih kalah di beberapa sektor seperti daya tahan baterai dan kualitas layar. Tapi untuk fleksibilitas, LG G5 lebih unggul dengan removable battery, ditambah dengan berbagai macam modul yang dapat dilepas-pasang. Adanya kamera sekunder di belakang dengan sudut pandang ekstra lebar juga dapat mengubah bagaimana cara kamu mengambil foto sebelumnya.

"Tapi yang dijual di sini LG G5 SE, kan? Which one I should choose?"

LG G5 SE yang dijual resmi di Indonesia menggunakan processor octa-core Snapdragon 652, grafis Adreno 510 dan RAM 3GB. Secara benchmark, performa Snapdragon 652 memang berada di bawah Snapdragon 820 yang dimiliki G5 biasa, tapi masih di atas Snapdragon 808 (yang juga tidak lambat sama sekali di G4 saya). Bisa jadi, G5 SE punya daya tahan baterai yang lebih irit dengan processor yang tidak se-powerful G5 biasa.

Pilih LG G5 jika kamu merasa kurang sreg menghabiskan dana 7,99 juta rupiah untuk smartphone dengan spesifikasi yang tidak maksimal. Tapi tanggung semua risikonya; karena bukan barang resmi, kamu bisa membelinya di negara seberang yang terdekat, atau lewat penjual yang menawarkan bantuan klaim garansi. Pastikan begitu, atau pastikan kamu bisa ke luar negeri sewaktu-waktu, in case ada kerusakan tertentu dari sistem modularnya yang masih baru.

Pilih LG G5 SE jika kamu tidak mengedepankan performa gaming. Bagi eks pengguna LG G4 yang sudah melewati proses ganti motherboard atau ganti unit (seperti saya), G5 SE merupakan pilihan paling aman. Menurut saya, service centre LG Indonesia adalah yang terbaik dari yang lain. Sparepart lengkap, dan LG memberikan jaminan ganti unit jika sparepart tidak tersedia selama 14 hari. Ini yang membuat saya tidak kapok untuk menggunakan produk LG, walaupun sudah pernah ganti unit sebelumnya.



Sekian review dari saya, semoga dapat membantu kamu untuk menentukan flagship Android yang tepat. Special thanks to Div Rusli yang sudah meminjamkan LG G5-nya untuk diutak-atik. Jika ada pertanyaan lain, langsung tanyakan di Twitter (@prasetyoh) atau e-mail ke pras@outlook.com. Terima kasih!

Comments

  1. Review yang menyenangkan untuk dibaca! Mahal ya hahahaha

    *pegang Note 3 Pro*

    ReplyDelete
  2. Mamaku pakai G4 dan untungnya belum minta ganti haha, tapi tergoda juga nyobain modular phone ini bisa diapain aja.

    ReplyDelete
  3. Wah, serial numbernya berapa kak? Kalau tiga digit depannya 505-506 (produksi Mei-Juni 2015), siap-siap ganti motherboard. Kalau 508 ke atas, aman. :D

    ReplyDelete
  4. Iya, dilihat dari dus/di balik baterai. Daripada tiba-tiba mati dan bootloop, data hilang. ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren