Review: Smartfren Andromax R2 4G LTE


Sudah hampir satu bulan saya menggunakan Andromax R2, salah satu ponsel 4G LTE terbaru yang dirilis oleh Smartfren. Selama menggunakan Andromax R2 sebagai daily driver, ada banyak hal yang membuat saya suka dengan ponsel ini, pun ada juga beberapa hal yang  kurang saya suka. Apa saja itu?

Sebelum membaca review lebih jauh, pastikan kamu sudah membaca first impression Andromax R2 yang sudah saya tulis dua minggu lalu di sini ya. Beberapa hal yang sudah saya bahas di sana, tidak saya ulangi di sini.

Review ini saya bagi menjadi dua topik utama; ponselnya (Andromax R2) sendiri dan bagaimana kualitas jaringan 4G LTE Smartfren di Surabaya.

Smartfren Andromax R2

Desain fisik Andromax R2 sudah saya bahas di artikel first impression sebelumnya. Singkatnya, ponsel ini punya desain yang keren ditambah frame metal di sekelilingnya. Ada tiga varian warna; hitam dengan frame warna silver atau emas, dan putih dengan frame warna emas. Saya pribadi paling suka warna hitam dengan frame silver. Elegan, tetapi tidak terlalu mencolok.



Setelah satu bulan pemakaian tanpa case, fisik Andromax R2 masih sama seperti baru. Cukup mengesankan, walaupun saya naruhnya agak sembarangan seperti di cup holder bersamaan dengan kunci dan koin. Walaupun lapisan screenguard di back cover banyak tergores, goresan hanya terlihat di kondisi pencahayaan tertentu saja. Kalau kamu mau, tinggal lepas plastik screenguardnya dan Andromax R2 akan kembali ganteng.



Smartfren Andromax R2 memiliki layar 5" IPS dengan resolusi HD 720p dan teknologi OGS yang dapat menghilangkan gap antara kaca dan LCD, serasa menyentuh konten yang ada di layar secara langsung. Untuk urusan daya tahan, terdapat proteksi ganda kombinasi screenguard dan material kaca tahan gores, Dragontrail Glass. Sedikit yang saya kurang suka dari layar Andromax R2 adalah white balance yang lebih cool, alias kebiruan. Akan lebih baik jika diberi pengaturan untuk mengganti white balance seperti pada ponsel ASUS atau Xiaomi.



Di sisi software, Andromax R2 menggunakan sistem operasi Android 5.1.1, Lollipop versi terbaru dan terakhir. Tampilannya simpel dan minimalis layaknya stock Android, tapi dengan tambahan fitur kustomisasi yang cukup banyak. Kamu bisa mengganti ukuran teks dan background pada menu, buat folder di dalam menu, atur ukuran grid dan lain-lain. Oh, yang cukup unik, Andromax R2 mendukung rotasi layar 180 derajat. Sangat jarang saya temui (kecuali di perangkat tablet), biasanya ponsel hanya mendukung rotasi 90 atau 270 derajat saja, kan? Tersedia juga fitur gesture yang sangat lengkap, seperti double-tap to wake, tulis huruf "M" saat layar ponsel mati untuk memutar musik, dan huruf lain yang dapat kamu atur sesuai kebutuhan.



Tiga tombol navigasi back, home dan multitask tersedia di bawah layar Andromax R2, dilengkapi dengan lampu yang dapat dimatikan untuk menghemat baterai (atau untuk saya yang tidak terlalu suka dengan bentuk tombolnya). Satu lagi, Andromax R2 dilengkapi dengan bloatware paling banyak yang pernah saya temui pada sebuah ponsel Android. Untungnya, hampir semuanya bisa dihapus.



Bagaimana dengan performanya? Smartfren Andromax R2 menggunakan processor baru dari Qualcomm, Snapdragon 415 Octa-core 64 bit dengan clockspeed 1.4GHz. Performa Andromax R2 terasa signifikan lebih cepat daripada ponsel Android lain yang menggunakan processor Snapdragon 400 maupun Snapdragon 410. Jeda saat multitasking masih ada, namun relatif singkat. Ada dukungan USB OTG, memori RAM 2GB, memori internal 16GB dan dapat ditambah slot kartu memori yang mendukung kapasitas hingga 32GB. Oh ya, slotnya bukan hybrid ya, alias kamu dapat menggunakan dua kartu SIM plus kartu memori sekaligus. Untuk performa gaming, game seperti Clash Royale, Crossy Road dan Monument Valley dapat dijalankan secara mulus. Saat sedang digunakan secara intensif, Andromax R2 ini sangat cepat hangat terutama di bagian belakang atas. Hangat saja kok, tidak pernah sampai panas berlebihan. Overall, performa dari ponsel ini cukup impresif.

Untuk meningkatkan kualitas audio, Andromax R2 dilengkapi dengan dukungan Dolby Digital Plus. Ada Snapdragon Audio+ juga yang dapat kamu pilih, tapi buat telinga saya, sound effect dari Dolby lebih pas. Keluaran suara dari speaker bawaan tidak terlalu keras, dan seperti yang sudah saya tulis di first impression, secara tidak sengaja speaker sering saya tutup jari kelingking saat memegang dengan tangan kanan. Satu catatan: saat sedang memutar musik dan ada notifikasi masuk, musik akan berhenti, jeda satu detik, suara notifikasi muncul, lalu suara musik baru kembali menyala. Hal ini cukup mengganggu buat saya, dan tidak seperti di ponsel lain yang hanya mengecilkan suara musik lalu mengeluarkan suara notifikasi.




Lanjut ke kamera. Kamera utama Andromax R2 beresolusi 13 Megapiksel dengan autofokus, BSI sensor, apertur f/2.0 dan dual-tone LED flash. Karakter foto yang dihasilkan tidak terlalu berwarna seperti ponsel lain kebanyakan, bisa dibilang lebih ke sisi natural. Fitur HDR tidak banyak membantu untuk mereduksi cahaya yang berlebihan. Ada jeda setiap mengambil foto, namun fitur burst-shot tersedia dengan cara menekan tombol shutter untuk pengambilan foto secara cepat. Untuk foto dalam kondisi kurang cahaya, mode auto pada Andromax R2 cenderung menggunakan ISO tinggi hingga 3200. Sisi positifnya, hasil foto terang dan steady. Negatifnya, akan ada banyak noise pada foto. Sebagai alternatif, kamu dapat mengatur ISO dan exposure secara manual untuk menghasilkan foto yang lebih pas sesuai selera.

Foto menggunakan lampu flash memiliki hasil yang baik. Dengan dua warna lampu yang berbeda, kamu dapat mengambil foto portrait dengan warna kulit natural. Untuk ukuran kamera 13 Megapiksel, hasil fotonya memang sedikit kurang memuaskan daripada ponsel lain dengan resolusi yang sama. Tapi untuk ponsel dengan harga 1,6 jutaan dan bergaransi resmi, kombinasi kamera 13 Megapiksel dan dual-tone LED flashnya sudah cukup baik. Berikut hasil fotonya.

Andromax R2 Photo Samples
Gemar foto selfie? Jika iya, maka Andromax R2 ini akan cocok banget buat kamu. Kamera depannya beresolusi 5 Megapiksel f/2.4 dan dilengkapi single LED flash. Lensanya lebar, memudahkan kamu untuk ambil foto bersama teman-teman alias group selfie. Hasil foto terang, dengan jumlah detil yang cukup. Sama seperti kamera belakang, kamera depan Andromax R2 cenderung menggunakan ISO tinggi untuk mencegah hasil foto agar tidak blur. Nah, jika kamu sedang dalam kondisi cahaya melimpah, set ISO ke 100, dan hasil foto selfiemu akan sangat tajam dengan warna akurat. Adanya lampu flash di depan juga cukup membantu saat ingin foto dalam kondisi gelap, dengan jumlah pencahayaan yang pas. Menurut saya, untuk kamera depan, Andromax R2 adalah salah satu yang terbaik di kelasnya. Berikut contoh hasilnya, diperankan oleh model.



Yang tidak kalah penting dari sebuah ponsel adalah daya tahan baterai. Dengan kapasitas 2320 mAh, baterai Andromax R2 memang terkesan kecil, apalagi sudah mulai banyak ponsel Android dengan kapasitas baterai 3000 mAh, bahkan 5000 mAh (dengan dimensi layar yang lebih besar juga, tentunya). Untuk penggunaan yang cukup intensif (online 15+ aplikasi jejaring sosial lengkap dengan notifikasi, push mail, dua kartu aktif, bluetooth aktif untuk notifikasi ke Pebble plus beberapa puluh menit tethering), screen-on time Andromax R2 dapat mencapai waktu rata-rata 3 jam. Sesekali bisa 2 jam 45 menit, bisa juga 3 jam 15 menit. Sedangkan untuk penggunaan intensif, screen-on time masih bisa mencapai 4 - 4,5 jam. Dugaan saya, software Andromax R2 masih kurang optimal untuk mengatur konsumsi daya aplikasi saat standby. Pernah satu kali saya charge hingga penuh & lepas charger di malam hari, keesokan paginya baterai sudah berkurang 20%. Semoga hal ini bisa diperbaiki lewat software update.

Karena Andromax R2 belum dilengkapi fitur fast charging, charge dari 5% ke 100% membutuhkan waktu kurang lebih dua jam.

Smartfren 4G LTE

Menggunakan Andromax R2 secara tidak langsung membuat saya harus bergantung kepada kualitas 4G LTE dari Smartfren. Kenapa? Karena slot utama 4G di Andromax R2 hanya mendukung jaringan milik Smartfren, sedangkan slot sekunder untuk GSM maksimal hanya 2G saja. "Smartfren itu CDMA, ya?". Awalnya memang iya, tapi di era 4G LTE, tidak ada sebutan seperti GSM dan CDMA, atau HSDPA dan EVDO. Yang ada sama-sama 4G LTE, dengan frekuensi TDD dan FDD. "Lalu, Smartfren yang mana?". Yang unik, Smartfren jalan di kedua frekuensi alias kombinasi TDD dan FDD, yang Smartfren sebut sebagai "4G LTE Advanced". Sampai bulan Maret 2016, jaringan 4G LTE Smartfren sudah tersedia di 85 kota di seluruh Indonesia. Tentunya jumlah kota akan semakin bertambah di masa yang mendatang.






Pengalaman selama satu bulan menggunakan Smartfren 4G LTE di Surabaya buat saya sangat memuaskan, apalagi dengan adanya paket internet True Unlimited yang khusus untuk ponsel Andromax. Mau di Surabaya Selatan, Surabaya Barat, jaringan tetap konsisten di 4G. Karena True Unlimited, peran Andromax R2 tidak jarang berubah jadi modem berjalan, apalagi kalau lagi jalan bersama teman-teman. Update momen di Path, Snapchat, Twitter, streaming YouTube, main Clash Royale, semuanya lancar banget. Buat teleponan juga lancar. Oh ya, untuk sesama pengguna Smartfren 4G LTE, ada layanan yang namanya VOLTE (Voice Over LTE). Apa itu? Simpelnya seperti Skype/WhatsApp call, tapi dengan kualitas yang jauh lebih baik, plus integrasi voice & video call yang sangat mudah. Saat kamu sedang menelepon menggunakan VOLTE, jika ingin berpindah ke video call, cukup menekan satu tombol di layar, dan komunikasi akan berubah menjadi video call. Sayangnya, fitur ini tidak dapat dinikmati di semua ponsel. Sebagai contoh, untuk ponsel Android selain Andromax, hanya Samsung seri tertentu dan Lenovo A6010 yang mendukung jaringan 4G LTE Smartfren dan fitur VOLTE ini.

"Jadi, apakah Smartfren Andromax R2 layak dibeli?". Untuk ponsel dengan harga 1,6 jutaan dan bergaransi resmi, Andromax R2 sangat layak untuk dibeli. Desainnya kece, performanya ngebut, fiturnya juga lengkap. Kamera depannya cocok buat yang suka selfie, walaupun kamera belakang bukan yang paling unggul di kelasnya. Perihal baterai yang cukup boros saat standby harus kamu pertimbangkan juga, walaupun semestinya (menurut saya) dapat dioptimalkan lewat software update. Dan dua poin yang tidak kalah penting, pastikan jaringan Smartfren 4G LTE di kotamu sudah tersedia, atau kualitas jaringannya stabil. Ini sangat penting, mengingat dengan menggunakan Andromax R2, kamu akan bergantung kepada Smartfren untuk kebutuhan berinternet ria. Kalau dua poin di atas sudah aman, then you're good to go!

Comments

  1. Review nya Karen. Saya belum membuat Review untuk Andromax R2. Saya baru selesai mereview jaringan 4G LTE smartfren di daerah saya dengan modem andromax M2Y di Blog saya

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak, mas Jarwadi. Wah, di Gunungkidul juga udah ada 4G Smartfren ya. ?

    ReplyDelete
  3. Saya jg pake...keren..

    ReplyDelete
  4. Mantap mas review nya, saya pengen beli tp blm kesampaian. Moga moga aja harganya turun :D

    ReplyDelete
  5. Terima kasih. Semoga bisa segera kebeli yaa. :)

    ReplyDelete
  6. Wah, bawa langsung ke galeri Smartfren aja, mas Setyo. Habis diapain tuh sampai bisa ngga nempel? :o

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren