Fun Talk With Infinix Indonesia (+ Hands-on Infinix Note 2 & Zero 3)


Selasa (29/3) kemarin, di siang hari yang tenang dan biasa saja, saya tiba-tiba dapat mention dari seorang pengamat teknologi favorit saya yang kebetulan sama-sama tinggal di Surabaya. Beliau mengundang saya untuk ikut acara gathering Infinix di Surabaya.





"Wah, mau banget! Tapi saya belum pernah punya ponsel Infinix", saya bilang. "Nggak punya Infinix tak masalah kok", beliau balas.

Ternyata, Infinix akan mengadakan gathering pertama di Surabaya, "#FunTalkWithInfinixIndo". Saya sendiri sudah cukup mengenal brand smartphone yang satu ini. Yang saya tahu, sebelum masuk ke Indonesia, Infinix memfokuskan penjualan di Afrika. Tapi mereka tidak berasal dari sana, melainkan dari Hong Kong pada tahun 2009 lalu.

Cukup tahu aja, saya sama sekali belum pernah pegang, atau hands-on ponsel Infinix secara langsung. Nonton reviewnya sih udah lumayan khatam, dari beberapa channel YouTube lokal. Saya jadi nggak sabar untuk datang ke gatheringnya di Surabaya, dan cobain satu-satu ponsel andalan mereka.

Sesampainya di venue, saya langsung ketemu dengan tim Infinix, beberapa blogger yang sudah ngetop di Surabaya dibandingkan saya yang butiran debu ini, koh Herry, mas Ibro Kumar, dan beberapa orang lagi yang diundang Infinix melalui akun Facebook dan Twitter resminya (buat kamu yang mau ikutan di next gathering, pantau terus akun sosial resmi Infinix, deh!).

Ada yang lagi pura-pura gendut.
Ada tiga orang dari Infinix yang datang langsung dari Jakarta; mas Jefry selaku Digital Marketing Specialist, mba Fitri selaku Sales Specialist, dan mr. Tony selaku Sales Manager Infinix Indonesia. Yang saya sebutkan terakhir adalah orang native asal Cina, dan sebelumnya pernah bekerja di Infinix untuk negara lain, sebelum akhirnya gabung di Infinix Indonesia.

Acara dimulai dengan perkenalan dari Infinix; asal merk Infinix, lini apa saja yang mereka punya, penjualan, purna jual dan sebagainya. Sembari acara berjalan, saya memecah fokus ke ponsel-ponsel Infinix yang tergeletak (apeu) di meja. Jadilah saya coba-coba sambil dengerin penjelasan dari tim Infinix.


Secara umum, Infinix punya tiga lini produk yang diberikan untuk konsumen; Hot, Note, dan Zero. Seri Hot adalah untuk kelas pemula, buat kamu yang kepengin punya smartphone Android dengan harga terjangkau. Seri Note berfokus ke kapasitas baterai besar dan kecepatan charge yang cepat, sedangkan Seri Zero adalah top of the line/kelas paling atas dari Infinix. Di Indonesia, Infinix selalu merilis varian tertinggi dari masing-masing tipe yang ada, dan tidak mengikuti cara penjualan beberapa brand ponsel lain yang mungkin bisa membuat empat jenis varian dalam satu tipe.

Kebetulan di meja saya ada Infinix Note 2 dan Zero 3. Yang saya coba pertama kali adalah Infinix Note 2. Ponsel ini cukup besar dengan layar 5.98", tetapi tidak terlalu lebar karena bezel relatif tipis. Gripnya juga enak dan tidak licin di permukaan tangan. And it is surprisingly light! - terasa jauh lebih ringan dari Lumia 1520 yang punya ukuran layar hampir sama (material beda sih ya). Fitur unggulan dari Infinix Note 2 adalah baterainya yang besar, 4000 mAh, diimbangi dengan waktu pengecasan yang super cepat (97% dalam 60 menit). Dengan processor octa-core MediaTek MT6753, ponsel ini cocok banget buat yang suka main game. Harganya? Sekitar 1,9 jutaan rupiah.


Kemudian saya lanjut pegang-pegang ponsel kelas paling atas Infinix, yaitu Zero 3. In gold. Duh. Kelar. Modelnya saya suka banget! Garis-garis tajam yang mungkin bagi beberapa orang terkesan kaku, buat saya malah jadi terlihat futuristik. Zero 3 ini mengingatkan saya saat pertama kali pegang Sony Xperia Z - tidak terlalu nyaman di tangan karena sudutnya yang agak tajam (nggak, nggak sampai bikin sakit kok), tapi seneng banget megangnya. Gitu deh.

Satu yang saya kurang suka adalah desain kamera yang menonjol, takut bikin baret-baret. Mungkin disengaja, karena kamera merupakan fitur unggulan yang ditawarkan Zero 3. Menggunakan sensor Sony IMX230, 20.7 Megapiksel dengan apertur f/2.0, dual-tone LED flash, 6P Largan lens dan PDAF, spesifikasi kamera Infinix Zero 3 memang nggak main-main. Ada banyak mode foto yang bisa dipilih, termasuk mode Professional. Dalam mode ini, kita bisa atur shutter speed, ISO, fokus dan white balance sesuai selera. Hasilnya? Fokus sangat instan (dalam kondisi indoor banyak cahaya), saturasi pas, bokeh dapet, detil bagus. Pengalaman menggunakan kamera belakang Infinix Zero 3 bagi saya lebih baik daripada Zenfone Selfie, yang dijual dengan harga tidak jauh berbeda, sama-sama dibawah 3 jutaan rupiah.


Kemudian, topik acara berlanjut ke yang lagi panas-panasnya. Bukan, bukan ngomongin cuaca kota Surabaya. Obrolan berlanjut ke Infinix Hot 3, ponsel Infinix yang baru saja dirilis. Ponsel ini baru akan dijual pada tanggal 7 April nanti di Lazada. Dan menurut tim Infinix, kami adalah salah satu yang pertama mencoba Infinix Hot 3 sebelum dijual. Asik! Buat kamu yang penasaran, hands-on Infinix Hot 3 ada di artikel terpisah yang bisa kamu akses di sini.

Selagi coba-coba ponsel Infinix sama mas Ibro, mr. Tony datang menghampiri dan duduk di sebelah saya. Kirain ada apa, ternyata dia penasaran dengan ponsel yang saya pakai. "What is this? G2? G3?". "No, it's an LG G4", saya jawab. Jadi pas saya lagi coba-coba Infinix Zero 3, beliau nyobain G4 saya termasuk kameranya. Untung ga ada isi macem-macem. *seka keringat*

Mumpung di sebelah saya, saya tanya-tanya beberapa hal yang lebih teknis, seperti kenapa Zero 3 pakai 20.7 Megapiksel (karena resolusi layar di Zero 3 Full HD, dan melalui banyak macam pertimbangan lain), kenapa Hot 3, varian 3G pakai MediaTek (simply agar lebih murah), apa bedanya Hot 3 X553 & X554 dari segi tampilan fisik (nggak ada bedanya), dan lain sebagainya. Ada yang suka selfie? Nah, sedikit fakta menarik dari beliau. Berbeda dari pengguna Infinix di negara lain yang ingin menggunakan mode beautify agar lebih putih, orang Indonesia rata-rata lebih memilih untuk menampilkan kulit warna natural, dan tidak terlalu suka fitur pemutih kulit. Selain itu, fitur untuk mengecilkan pipi/merampingkan wajah juga yang paling penting untuk ada di ponsel Infinix. Yah, putih-putih mah buat apa ya, yang ada ntar kayak bocah baru mandi trus dibedakin semuka.

Nah, yang saya suka banget adalah bagaimana beliau menerima saran. Waktu itu saya kasih dua saran, masing-masing untuk Zero 3 dan Hot 3. Saat menggunakan mode Professional di Zero 3, jumlah cahaya pada viewfinder/tampilan kamera tidak secara otomatis mengikuti perubahan ISO ataupun shutter speed. Akibatnya, pengguna tidak bisa tahu apakah foto akan under atau over-exposure saat menggunakan ISO tertentu. Tidak seperti G4 atau Lumia 1520 yang otomatis mengikuti perubahan pengaturan, sehingga kita bisa tahu kapan saatnya menaikkan atau menurunkan ISO dan shutter speed. Untuk Hot 3, karena baterainya removable, saya kasih saran jika lebih baik disediakan aksesoris seperti battery kit di G4. Misal, nih, kamu lagi ke tempat wisata untuk foto-foto, lalu bateraimu habis. Dengan battery kit, kamu cukup menukar baterai yang habis dengan baterai yang masih penuh, meletakkan baterai yang habis ke dalam battery kit, charge kit menggunakan powerbank dan letakkan di dalam tas. Selesai. Kamu nggak perlu foto-foto sambil charge yang bisa menyebabkan overheat di ponsel.


Yang beliau lakukan? Meminta izin untuk meminjam sebentar, lihat-lihat dan ambil beberapa foto user interface kamera G4 saya, plus battery kitnya. Iya, seakan langsung ditanggapin. Asik banget kan.

Setelah acara utama selesai, lanjut dengan games foto-foto seru, dan tidak lupa foto bareng semua peserta acara sebelum pulang. Selesai foto bareng dan bagi bagi goodybag, beberapa blogger memutuskan pulang, saya ambil foto selfie bersama tim Infinix dan yang masih ada di venue.


Terima kasih kepada Infinix Indonesia yang sudah mengundang saya untuk hadir. Sekian, dan saya kepengin Infinix Zero 3 Gold.

Comments

Popular posts from this blog

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren