Lenovo A6000 - Pesaing Berat Redmi 2



Ceritanya sudah bosan dengan Android One. No, no, bukan karena Android One jelek. Bagus banget malah, nggak ada yang bisa di-komplain untuk harga satu juta pas. Cuma pengin cobain yang lain aja, dan pengin cari yang layarnya agak besaran (terbiasa sama Lumia 1520, begitu pegang 4.5" buat edit foto, mendadak kekecilan).

Akhirnya cari-cari Android yang budgetnya nggak jauh-jauh dari Mito Impact, dan bertemulah dengan salah dua dari smartphone 4G LTE terjangkau - Lenovo A6000 di harga Rp 1,5 juta, dan Xiaomi Redmi 2 yang lebih mahal 100 ribu. Dua-duanya punya spesifikasi yang mirip; processor Snapdragon 410 Quad-core 64-bit, RAM 1GB, internal 8GB dan eksternal sampai 32GB, kamera belakang 8 Megapiksel dan depan 2 Megapiksel (komparasi spesifikasi bisa dilihat di sini).



Lalu, apa yang membuat saya memilih Lenovo A6000? A6000 punya dimensi layar yang lebih besar (5" vs 4.7" di Redmi 2). Buat saya, 5" adalah layar minimum yang ideal untuk nonton YouTube dan edit foto. Plus, Lenovo punya dual speaker, desain fisik yang lebih bagus (preferensi pribadi), dan harga yang lebih murah (sudah include hard case bening dan screenguard pula). Kalau kamu lebih mengutamakan hasil kamera depan belakang yang lebih bagus dan daya tahan baterai yang sedikit lebih irit, kamu bisa pilih Redmi 2.

Yup, menurut saya, desain hardware Lenovo A6000 ini kece banget, sama sekali nggak terlihat seperti Android harga satu jutaan. Ketebalannya cuma 8,2mm. Dimensinya lebih kecil daripada Galaxy Grand Prime, apalagi Zenfone 5. Bahkan lebih ramping dari Xperia M2 yang layarnya lebih kecil (4.8"). Bahan back covernya plastik matte, nggak licin dan mampu mereduksi sidik jari. Sangat nyaman di tangan, dan elegan (tsaah) untuk dilihat. Nuansa mahal ini akan sedikit menghilang begitu hp ini mulai digunakan.

Lihat ketiga tombol kapasitif di bawah? Nah, ketiga tombol kapasitif itu tidak dilengkapi back light, alias tidak menyala walaupun dalam gelap. Iya, Redmi 2 juga tanpa back light, tapi tombolnya berwarna merah jadi cukup terlihat. Iya, Oppo R5 yang harganya Rp 6,5 juta pun tombolnya tanpa back light. Sebagian orang akan menganggap ini kelebihan, karena label ketiga tombol agak gelap dan cukup tidak terlihat dalam gelap, membuat A6000 terlihat lebih elegan. Sebagian orang yang mungkin belum terbiasa dengan Android, yang masih belum hafal dengan posisi ketiga tombol tersebut, akan mengalami kesulitan. Saya sih ada di sisi sebagian yang pertama. Beberapa kali punya Samsung Galaxy pun, lampu selalu saya matikan karena sudah hafal dan agar lebih irit baterai. Something to consider about.

Gelap.
Lanjut ke tampilan user interface.  Lenovo A6000 ini menggunakan launcher khas Lenovo, "Vibe UI". Pertama kali buka lockscreen, kamu langsung disuguhkan dengan warna icon dan wallpaper yang sangat... dangdut. Iya, berwarna banget. Layar Lenovo A6000 ini IPS dengan resolusi 720p, warnanya pas dan nggak terlalu saturated.  Tapi dengan adanya icon, widget dan wallpaper berwarna neon ini, layar terlihat lebih vibrant. Sebenarnya sih agak kurang suka dengan tampilan yang terlalu ngejreng (halah) begini. Update ke Lollipop yang bakal hadir di kuartal 2 ini pun sepertinya tidak akan mengganti ciri khas Vibe UI ini, tapi karena sebelumnya belum pernah pakai Lenovo dan tampilannya nggak terlalu ribet, masih bisa dimaklumi. Ya, kalau bosan pun, tinggal install Nova Launcher, tweak 10-15 menit dan walaa, jadilah rasa vanilla seperti di Android One. Satu lagi, pilihan tema di A6000 cuma dua, tanpa pilihan lain dan tanpa theme store seperti di Vibe UI Lenovo tipe lain.




Lanjut ke performa. Selama hampir satu bulan pemakaian, saya cukup puas dengan kinerja Lenovo A6000 ini. Notifikasi jejaring sosial jalan semua walaupun banyak, aplikasi lancar, perpindahan aplikasi cukup smooth walaupun terkadang ada lag sedikit. Berbeda di Android One yang manajemen memorinya sudah optimal berkat Lollipop 5.1, Lenovo A6000 yang masih di KitKat 4.4.4 punya free RAM lebih sedikit. Kalau di Android One bisa free 300-350MB dengan membuka aplikasi sebanyak apapun, di A6000, free RAM cenderung antara 50-150MB. Kalau tidak membuka aplikasi sama sekali, bisa free 270-360MB. Walaupun sedang buka banyak aplikasi sampai free tinggal 70MB, navigasi antar aplikasi masih bisa dibilang cepat, malah multitasking bisa lebih cepat dari Android One. Kalau sudah mulai lag karena kebanyakan aplikasi, ada satu tombol di menu multitask untuk menutup semua aplikasi. Ingin aplikasi tetap terbuka? Kamu bisa geser icon ke bawah dari menu multitask untuk mengunci agar tidak ikut tertutup.

Satu kasus yang bisa membuat processor Snapdragon 410 yang sudah 64-bit ini terasa lambat adalah waktu ngecek notifikasi socmed, sambil nyetel musik, dengan MiFit dan Endomondo standby di background untuk ngitung jumlah langkah dan rute gowes. Jeda pindah antar aplikasi atau antar menu di tiap aplikasi bisa 3-5 detik. Sangat lambat, tapi nggak sampai force close/freeze/lag. Nah, setelah Googling, Lenovo kasih update firmware versi terbaru, S035, untuk meningkatan performa multitasking. Sayangnya, updatenya agak aneh. Yang sudah update ke versi S034 tidak dapat update ke S035 (at least sampai review ini dipublish). Sedangkan yang masih pakai firmware sebelum S034 bisa naik ke S035. Semoga setelah update ke S035/update ke Lollipop nanti, kecepatan multitask bisa lebih baik. Lenovo A6000 punya kapasitas baterai 2,300mAh, dengan daya tahan baterai yang... lumayan irit. Pemakaian sehari-hari bisa tahan seharian, tergantung kombinasi koneksi dan aplikasi apa saja yang digunakan. Untuk heavy usage (full 3G mobile data tanpa wifi, streaming MixRadio 1,5-2 jam, buka social media dan lain-lain), screen on-time bisa sampai 3,5 jam (cek). Untuk heavy usage dengan koneksi 95% dalam area wifi, screen on-time bisa sampai 5 jam 44 menit (cek). Pemakaian kombinasi biasa mungkin bisa 1 - 1,5 hari.


Menuju ke kamera. Kamera belakang Lenovo A6000 punya resolusi 8 Megapiksel dengan autofocus & LED flash. Ada Auto HDR, histogram dan pengaturan lainnya seperti ISO 100-800.  Kamera depan 2 Megapikselnya juga mendukung HDR. Baik kamera depan dan belakang bisa rekam video HD 720p, dengan durasi maksimal video 30 menit (entah kenapa kok dibatasi). Selagi rekam video, kamu juga bisa ambil foto dengan sentuh layar, dengan resolusi 720p dan kualitas seadanya. Hasil foto kamera utama A6000 "ok". Nggak bagus-bagus amat seperti di Redmi 2, tapi juga nggak jelek. Dan kameranya punya masalah yang sama seperti Android One: shutter lag. Setelah menekan tombol shutter, animasi foto tersimpan ke galeri baru muncul 4-7 detik kemudian. Kalau kamu mengubah arah kamera tepat setelah suara shutter dan belum lebih dari 3 detik menekan tombol shutter, ada kemungkinan hasil foto akan goyang. Ini akan menimbulkan masalah saat memotret objek bergerak, tangan yang kurang steady, atau groufie-yang-terkadang-individunya-nggak-bisa-tenang-untuk-difoto. untuk kondisi lain, kamera belakang A6000 masih bisa diandalkan. Untuk hasil kamera depan, foto cukup jelas alias tidak buram, tapi disertai banyak noise di kondisi indoor. Ada fitur "Wavelet Denoise Mode" untuk menghilangkan noise hampir total. tetapi hasil foto terlihat halus, seperti pakai webcam PC di warnet.







Untuk keluaran suara, Lenovo A6000 punya dual speaker di belakang dan dilengkapi Dolby Digital Plus. Suka banget sama keluaran speakernya, bass agak lembut, treblenya pas dan nggak sember/cempreng/apalah-apalah (?). Via headset maupun output ke speaker juga enak dan pas. Yang saya nggak suka malah fitur Dolbynya. Entah kenapa, kalau dinyalakan, output suara malah jadi nggak enak menurut saya. Ada gadget yang kalau ada fitur audio enhancement bawaan wajib dinyalakan supaya suaranya enak (seperti laptop saya), ada juga yang kalau diaktifkan malah nggak enak (seperti A6000 ini).  Jadi output suara dari A6000 ini enak, tapi kalau Dolbynya diaktifkan, malah berkurang enaknya. But again, pendengaran setiap orang berbeda, jadi mungkin aja di telinga orang lain, lebih pas jika dinyalakan.

Overall, pilihan saya untuk beli Lenovo A6000 ini sangat tepat. Dengan harga nggak lebih dari Rp 1,5 juta, dapat desain dan kualitas layar yang bagus, keluaran audio yang pas, baterai lumayan irit, dan kamera yang cukup oke (untuk objek tertentu). Memang ada isu di sana-sini, tapi semuanya hanya minor dan nggak membuat saya nyesel atau ingin berpaling (halah lagi) ke Redmi 2. Oh ya, kalau kamu masih galau antara A6000 dan Redmi 2, kamu bisa lihat video komparasi punya @SobatHAPE di sini. Dan jangan khawatir untuk software update, karena Lollipop untuk A6000 dijanjikan akan datang di kuartal 2 (Mei-Juni) tahun ini. Kalau ada pertanyaan lain seputar Lenovo A6000, bisa tulis komentar di bawah atau mention ke @prasetyoh. Sekian review dari saya. :D

Comments

  1. terus kalau pake launcher yang lain bisa gak?? kok kalau kita mau ke aplikasi gak harus klik menu ya?trus cara biar bisa menampilkan menu seperti biasa gimana ya?

    ReplyDelete
  2. Lenovo memang punya launcher bawaan yang simpel. Menu jadi satu sama widget, jadi praktis. Tapi kalau memang mau dengan menu tersendiri, bisa pakai launcher lain, seperti Nova Launcher. :)

    ReplyDelete
  3. Kok kamera nya banyak noise nya terus susah bgt fokus nya mau foto gak makro juga. Pengaturan kamera nya gmn ya biar agak bagusan?

    ReplyDelete
  4. Banyaknya noise tergantung kondisi cahaya ya. Kalau pencahayaan gelap dan ingin menghasilkan foto yang terang, pasti jumlah noise semakin banyak. Pastikan sudah pakai software terbaru, dan bersihkan kaca kamera sebelum foto. Kalau mau noise minim, turunkan ISO seminimal mungkin.

    ReplyDelete
  5. saya baru beli kok gak suaranya ya....buka youtube jg gak ad suaranya

    ReplyDelete
  6. Sudah dinaikkan volumenya? Kalau belum bisa, coba restart. Kalau belum bisa lagi, coba update softwarenya dulu, pastikan pakai software terbaru. (Di Settings - about phone).

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review: Moto G5s Plus - Pilihan Terbaik di Rp3 Jutaan

Tips Memilih Kartu Memori Yang Tepat Untuk Ponsel

Andromax B & Andromax L - Ponsel Android 4G LTE Terbaru Smartfren